Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas perkenan dan rahmatNya saya dan isteri dapat pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci pada akhir tahun 2007 (1428 H).Tiada daya dan upaya melainkan atas kehendakNya.
Dari perjalanan menunaikan ibadah haji ke tanah suci - orang sering sebut ‘naik haji’ - banyak cerita pengalaman dan hikmah yang dapat dipetik, diantaranya bertemunya komunitas islam, wukuf di Padang Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina,tawaf dan sa’i serta do’a.Disamping itu pengalaman lainnya selama di tanah suci berkaitan dengan masalah kesehatan dan makanan, masalah antri, pengalaman ziarah serta tauziah.

Komunitas Islam. Pelaksanaan ibadah haji di tanah suci menjadi tempat berkumpulnya umat islam seluruh dunia.Ibadah haji merupakan ajang perpaduan umat islam seluruh dunia.Ibadah haji dilaksanakan pada waktu yang sama, tata cara yang sama, pakaian yang sama tanpa membedakan status, golongan, suku bangsa, kaya-miskin dsb.Di tanah suci ini orang mengetahui dan saling menghargai perbedaan antar bangsa.Pada forum ini sebagai ajang perkenalan dan komunikasi dengan orang-orang dari belahan dunia lain baik mengenai latar belakang sosial, perkembangan islam di masing-masing negara sampai ke soal peribadatan sebagai perbandingan atau ‘benchmarking’. Dalam berinteraksi dengan para jamaah lain yang mempunyai latarbelakang lingkungan sosial dan budaya yang berbeda, memberi pelajaran dan pemahaman kepada kita untuk saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, saling tolong-menolong dan memberi pelajaran kepada kita untuk berfikir positif.
Armina (Arofah-Muzdalifah-Mina). Al hajju Arafah, ibadah haji adalah di Arafah.Fokus ibadah haji adalah wukuf di padang Arafah, mabit di Muzdalifah dan melempar jumrah di Mina.Karena ibadah tersebut dilaksanakan bersamaan oleh jamaah seluruh dunia, maka titik kritisnya adalah pergerakan jamaah, kita dituntut mengatur waktu yang efektif.Kita manfaatkan waktu yang terbatas pada saat wukuf di Arafah untuk dzikir dan memanjatkan do’a semaksimal mungkin.Ada ‘tip’ dari teman, agar bisa maksimal, dianjurkan membuat ‘list’ siapa-siapa yang kita do’akan, mulai dari diri sendiri, isteri, anak, orang tua, serta para handai taulan lainnya.Setelah selesai wukuf, menuju Muzdalifah untuk ‘transit’ sambil mengumpulkan batu untuk melempar jumrah (stoning).Tengah malam, dengan berantri menuju maktab/tenda masing-masing di Mina.Alhamdulillah sesampai di Mina dapat menyelesaikan melempar jumrah (jumrah Aqobah) dengan lancar dan sebelum waktu subuh sudah dapat kembali ke tenda masing-masing.Kelancaran ini berkat semakin memadainya infrastruktur yang disiapkan Pemerintah Arab Saudi maupun pelaksanaan pelemparan jumrah yang menepati jadwal yang ditetapkan.
Tawaf dan Sa’i. Tawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan Sa’i antara bukit Safa dan Marwa menggambarkan kepasrahan dan upaya, keseimbangan lahir-batin.Pada saat tawaf kita banyak beristighfar, mohon ampunan kepada Allah SWT dan doa.Dalam ber-Sa’i mengingatkan upaya Siti Hajar dalam mencari air di antara dua gunung di padang tandus.Perputaran dalam tawaf dan perjalanan/lari-lari pada saat Sai harus mengikuti irama yang mengalir mengikuti arus jamaah sehingga ibadah dapat berjalan lancar dan khidmat.
Doa. Dalam melaksanakan ibadah haji tidak terlepas dari aktivitas dzikir dan doa, baik pada saat persiapan di tanah air, pelaksaanaan di tanah suci maupun pada saat pulang ke tanah air.Banyak tempat-tempat yang mustajab di tanah suci dimana kalau kita berdoa insyaallah akan diijabah oleh Allah SWT.Terlebih jemaah haji merupakan ‘tamu Allah’, akan mendapatkan fasilitas sebagai tamu yang diutamakan.Bertaubat membersihkan diri, mohon ampunan dan menguatkan iman.Tempat yang mustajab untuk berdoa dan bartaubat antara lain di Multazam (tempat antara hajar aswad dan pintu ka’bah), pada saat wukuf di Arafah dan Rhaudoh di Masjid Nabawi.
Related Link: Doa-doa
Kesehatan dan Makanan. Ibadah haji disamping bersifat rohani juga menuntut kesiapan fisik yang prima.Kesiapan fisik harus diperhatikan sejak di tanah air kerena keadaan cuaca, kelembaban udara di tanah suci yang berbeda akan berpengaruh terhadap kesehatan. Demikian juga dalam mengatur menu makanan karena keteraturan dalam menyiapkan makanan ini akan berpengaruh juga terhadap kesehatan.Kelemahan tertentu fisik seseorang biasanya akan menjadi hambatan dalam perjalanan, untuk itulah kita dituntut persiapan latihan fisik, perbekalan yang cukup serta tidak lupa berdo’a untuk senantiasa diberi kesehatan sehingga ibadah menjadi lancar.
Ziarah. Perjalanan ke tanah suci tidak terlepas aktivitas ziarah karena di daerah Mekah - Medinah dan sekitarnya merupakan tempat yang menyimpan peristiwa bersejarah dari para Nabi, Rosul, sahabat dan para tabiin.Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain, masjid-masjid sekitar Masjidil HaramMekah (Masjid Jin, Masjid Kayu, Mesjid Quba dsb) dan sekitar masjid Nabawi,Bukit Safa dan Marwah (kisah Siti Hajar dan Ismail), Padang Arafah/Jabal Rahmah (pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa), Gunung Tsur, Uhud, lokasi Gowa Dari kegiatan ziarah ini dapat diambil hikmah bahwa sekalipun daerah Arab Saudi/ Timur Tengah pada umumnya berupa padang pasir dan gunung-gunung batu yang kerontang namun tampak diberkarti Allah SWT dengan menjamurnya ladang minyak, berkembangnya perdagangan dan tumbuhnya infra struktur yang luar biasa.Bangsa Indonesia patut bersyukur atas karunia Allah SWT berupa tanah air yang subur,gemah-ripah lohjinawi, tanaman serba tumbuh, berbagai flora dan fauna dan berbagai sumber daya alam yang melimpah. Dari pengalaman perjalanan di sekitar Mekah dan Madinah, juga dapat dijadikan iktibar atau pelajaran betapa kejuangan Nabi dan para sahabat dalam waktu singkat dapat menyebar pengaruhnya dan mewarnai Dunia.
Budaya Antri. Sisi lain dari pelaksanaan ibadah haji adalah berlatih sabar, tidak mengumpat dan menghargai dan mengerti orang lain.Antri ini suatu keharusan karena banyaknya jamaah pada saat yang sama di tingkat regu, rombongan, kloter, maktab maupun keseluruhan jamaah se dunia yang mencapai 5-6 juta orang. Antri ini dilakukan mulai keberangkatan/kepulangan, acara-acara makan, ke toilet, wudlu, masuk masjid, bahkan sholat sunah di Rhaudotul Jannah (antara makam nabi dan mihrab di Masjid Nabawi) mengharuskan antri karena banyaknya jamaah yang ingin sholat di tempat tersebut pada saat yang bersamaan.Latar belakang budaya dan lingkungan sosial berbeda mempengaruhi keteraturan dalam berantri.
Tauziah. Selama di tanah suci banyak menerima tauziah dari para ulama baik di Masjid, pada saat ziarah mapun di Maktab.Tauziah saat menjelang pulang disampaikan oleh ustadz Roi Abdullah, mahasisa S3 asal Indonesia pada Universitas Madinah jurusan Tarbiyah Bidang Tauhid. Dalam tauziahnya, ustadz kepada anggota rombongan menyampaikan agar para jamaah memperhatikan tiga hal dalam Ibadah Haji, yaitu Syukur, Sabar dan Pengaruh sosial pasca menjalankan Ibadah Haji.Pasca haji dapat memberikan nilai tambah bagi ketaqwaan diri dan dapat memberikan syiar agama bagi lngkungan masing-masing sebagai perwujudan ukhuwah islamiyah.
Semoga pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi hikmah bagi kita dan bagi anak-anak, handai taulan dan kepada para ikhwan semua saya anjurkan, jika mampu, untuk menunaikan ibadah haji pada kesempatan pertama, pada umur yang lebih awal/muda sehingga mempunyai ketahanan fisik dan akan memperoleh ‘kapitalisasi’ rohaniah yang lebih baik.Insyaalloh !
Related Link: Welcome Home Haji dan Hajjah